April 02, 2013

Perjalanan Bambang Pamungkas dan Ironi Lambang Garuda

MALAM itu, 28 November 2012, papan skor di Stadion Nasional Bukit Jalil masih menunjukkan angka 0-0 hingga turun minum. Dalam stadion yang terletak di kota Kuala Lumpur itu, sebelas penggawa Indonesia bertarung sengit untuk menghapus rekor 14 tahun tidak pernah menang atas Singapura. Ribuan penonton berharap cemas dapat menjadi saksi mata saksi peluh keringat anak bangsa berjuang menghapus rekor buruk sepak bola Indonesia.
Bambang Pamungkas  

Saat papan skor raksasa dalam stadion menunjukkan menit ke-54, sosok pemuda dengan nama Pamungkas di punggung berdiri gagah di pinggir lapangan. Matanya waswas memandang rekan-rekannya yang tengah berjuang. Satu menit berselang, ia pun melangkahkan kakinya ke dalam lapangan. Dengan penuh semangat, pemuda bernama lengkap Bambang Pamungkas itu berlari ke sana kemari mengejar bola.

Dua menit sebelum akhir laga, bola tendangan bebas Andik Vermansah meluncur deras masuk ke pojok kiri atas gawang Singapura.
Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai, dan lambang Garuda di dadamu.
Gol!
Sontak histeria ribuan pendukung Indonesia yang berada di Stadion Bukit Jalil serta jutaan penonton televisi nasional tumpah ruah. Pun halnya dengan Bambang yang kemudian berlari meluapkan kegembiraan bersama rekan-rekannya di sudut kiri ujung lapangan.
Gol itu akhirnya mampu mematahkan rekor buruk pertemuan dengan Singapura. Torehan pada lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2012 itu juga kemudian menjadi euforia terakhir pertandingan internasional yang dirasakan Bambang. Maklum, setelah itu, Indonesia harus rela tersingkir setelah dikalahkan Malaysia 0-2.
Bepe—sapaan Bambang—kecewa. Demikian halnya dengan ratusan juta rakyat Indonesia yang rindu kembali berkibarnya prestasi di jagat sepak bola internasional.

"Mereka berpikir saya telah merusak kredibilitas dan reputasi dengan menumpahkan tinta hitam di atasnya (kegagalan di Piala AFF). Tetapi, tidak demikian bagi saya pribadi. Saya telah mengakhiri perjalanan panjang bersama timnas dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan, setidaknya sebagai sebuah pribadi yang merdeka," ujar Bepe.

Pamungkas
Selama 13 tahun berzirah seragam timnas Indonesia, Bambang Pamungkas akhirnya secara resmi mengumumkan Piala AFF 2012 adalah turnamen pamungkas karier internasionalnya, Senin (1/4/2013) lalu. Gejolak dalam sepak bola Indonesia menjadi alasan utama keputusannya itu. Selama puluhan tahun Bepe memang banyak memakan asam garam dan karut-marut sepak bola nasional. Pujian setinggi langit hingga caci maki yang membuatnya harus mengelus dada pernah dirasakan pria kelahiran Semarang, 10 Juni 1980 itu.

Lihat saja, bagaimana publik sepak bola mengeluk-elukan namanya karena telah dianggap berkontribusi besar bagi timnas maupun Persija Jakarta. Namun, tak sedikit pula publik menilai kemampuan dirinya sudah habis atau dianggap sebagai pembelot karena memutuskan bergabung dengan timnas di tengah-tengah perseteruan PSSI dan KPSI.

Bambang mengakui, keputusan membela timnas ketika itu bukan menjadi pilihan yang mudah karena bertentangan dengan kebijakan Macan Kemayoran dan Indonesia Super League (ISL) dan KPSI. Namun, ia berani mengambil risiko tersebut karena menurutnya membela skuad Merah Putih adalah kewajiban setiap pemain Indonesia.

"Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang penghianat dari kelompok saya. Tetapi, satu hal yang pasti, bahwa saya tidak pernah mengkhianati hati dan profesi saya. Sebuah profesi yang saya cintai dan banggakan sebagai pemain sepak bola," kata Bepe, seperti dilansir kompas.com.

Kecintaan Bepe terhadap sepak bola memang sudah melekat sejak kecil. Saat usianya masih menginjak delapan tahun, ia bergabung ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Hobby Sepak Bola. Setelah itu, ia sempat merasakan bermain di SSB Ungaran Serasi pada 1989 hingga 1993, Persada Utama Ungaran (1993/94), Persikas Semarang Regency (1994-96), dan Diklat Salatiga (1996-99).

Setelah itu, Bepe memulai karier profesionalnya di Persija Jakarta pada 1999. Bersama Elie Aiboy, ia juga sempat membawa salah satu klub Malaysia, FC Selangor, merebut treble winners, yakni Malaysia Premier League, FA Cup Malaysia, dan Malaysia Cup (2005). Setelah itu, ayah dari tiga buah cintanya dengan Tribuana Tungga Dewi itu kembali bermain untuk Persija.

Debut di timnas dilakoninya saat tampil dalam laga uji coba melawan Lituania pada 17 Juli 1999. Sejauh ini, Bepe menjadi pencetak gol terbanyak di timnas dengan koleksi 37 gol dari 85 penampilan. Dari total torehan tersebut, 12 gol di antaranya dikreasi di Piala AFF (dulu Tiger Cup), hingga membuatnya masuk ke dalam lima pencetak gol terbanyak dalam sejarah berdirinya turnamen itu sejak 1996.

"Pada akhirnya, saya memang harus menerima kenyataan bahwa tidak ada satu gelar bergengsi yang mampu saya berikan untuk Indonesia. Dan oleh karena itu, seperti yang pernah saya janjikan, saya akan berteriak dengan lantang jika saya adalah generasi yang gagal," kata Bepe.

Ironi
Meskipun kerap dinaungi kalimat kegagalan dalam perjalanan timnas mencari secercah prestasi, perjuangan Bepe ini rasanya patut diapresiasi. Lihat saja, bagaimana dirinya dengan berani mengambil risiko demi Merah Putih. Ia menilai, sebagai pemain sepak bola, membela Tanah Air di kancah internasional adalah sebuah keharusan.

Para pesepak bola terbaik bangsa pada akhirnya memang dapat kembali bersatu dalam satu bendera timnas seiring dengan peleburan PSSI-KPSI beberapa waktu lalu. Bepe pun merasa sangat bahagia melihat para pemain nasional kembali bergairah untuk memenuhi panggilan negara. Pun halnya dengan gegap gempita Stadion Utama Gelora Bung Karno yang kembali terang benderang oleh luapan seluruh pendukung merah putih.

Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Karena jika dalam benak sejumlah pengurus sepak bola Indonesia hanya ada soal menang-kalah atau kekuasaan, prestasi timnas masih akan terus menjadi mimpi dan angan-angan. Toh, sejatinya, bagaimana mau berprestasi jika organisasi atau timnas dihuni oleh pengurus yang telah kenyang kegagalan selama puluhan tahun.

Teranyar, lihat saja lelucon dari para pengurus Badan Tim Nasional yang sempat membuat polemik di kursi kepelatihan timnas sebelum laga melawan Arab Saudi pada Pra-Piala Asia 2015 beberapa waktu lalu. Belum lagi, soal masalah pembayaran uang saku para penggawa skuad Garuda yang tampil pada pada pertandingan itu.

Bukannya segera mencari solusi, sama seperti sebelumnya, yang ada sejumlah pengurus sepak bola yang mirip politisi daripada pamong olahraga sejati itu justru saling tuding dan klaim saling benar. Inilah salah satu faktor yang membuat sepak bola Indonesia nir gelar.

Padahal, kalau mau sedikit berbesar hati, mau siapa pun yang memenangkan polemik itu, tetap orang Indonesia yang menjadi "juara" jika timnas berprestasi. Sebaliknya, akan bersifat mutlak jika para penggawa Merah Putih menelan kekalahan di lapangan karena itu juga berarti kekalahan pula bagi seluruh pengurus sepak bola dan publik seantero negeri ini.

Namun, terlepas dari sejumlah ironi itu, kini kita sama-sama berharap seluruh persoalan di tubuh PSSI bisa cepat diatasi agar prestasi timnas tidak terus mati suri. Sudah saatnya 240 juta masyarakat Indonesia melihat berita prestasi sepak bola terpampang di media nasional, bukan justru polemik ataupun intrik yang berasal dari para pengurusnya.

Hanya harapan besar dan doa yang bisa diucapkan kepada para pengurus PSSI maupun timnas agar mereka dengan tulus bisa mencintai sepak bola dengan sepenuh hati, bukan hanya cinta sesaat demi kepentingan pribadi. Mereka harus sadar, sama seperti Bepe, setiap peluh keringat yang jatuh dari tubuh para anak bangsa di lapangan sepak bola mempunyai satu tujuan sama, yaitu berjuang mencari secercah prestasi demi lambang Garuda di dada.

"Selamat berjuang untuk talenta-talenta terbaik sepak bola Indonesia. Kibarkanlah panji-panji kebesaran sepak bola kita setinggi-tingginya. Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai (keluarga), dan lambang Garuda di dadamu (rakyat Indonesia)." - Bambang Pamungkas.

Editor: Ferlyando Sandala

BAGIKAN KE: