May 19, 2013

Korea Utara Luncurkan Tiga Rudal Jarak Pendek

Seorang tentara Korea Selatan terlihat di antara jajaran barikade yang menghalangi ruas jalan di kota Paju, Korea Selatan yang menuju ke kompleks industri Kaesong di Korea Utara. 

SEOUL - Korea Utara meluncurkan tiga rudal jarak pendek ke laut dari pantai timur Semenanjung Korea, Sabtu (18/5/2013). Informasi ini dikutip kantor berita semi-resmi Korea Selatan Yonhap dari Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Kementerian tersebut menyatakan telah mendeteksi dua peluncuran pada pagi hari dan satu peluncuran lain pada sore harinya. Rudal-rudal itu ditembakkan ke arah timur laut, jauh dari perairan Korea Selatan.

Atas peluncuran tersebut, Korea Selatan meningkatkan pemantauan terhadap Korea Utara dan mempertahankan kesiagaan tingkat tinggi untuk menangani setiap perkembangan berisiko. Dikutip dari The Arm Control Association, sebuah organisasi yang berbasis di Amerika Serikat, rudal jarak pendek umumnya diklasifikasikan sebagai rudal dengan jarak jelajah kurang dari 1.000 kilometer atau sekitar 620 mil.

Ketegangan di wilayah itu mereda dalam beberapa hari terakhir, setelah satu periode penuh ketegangan sepanjang bulan lalu yang mencakup ancaman perang dari Korea Utara. Saat itu Amerika Serikat dan Korea Selatan khawatir rezim Kim Jong Un berencana kembali melakukan uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh yang diyakini sebagai "Musudan". Pemerintah Korea Selatan memperkirakan jarak jejalah rudal ini maksimum 3.500 kilometer atau setara 2.175 mil.

Andrew Salmon, jurnalis dan penulis yang berbasis di ibukota Korea Selatan, Seoul, mengatakan peluncuran rudal jarak pendek Korea Utara seharusnya tidak memicu perhatian terlalu serius seperti halnya bila ada peluncuran satelit atau roket Musudan. "Ini adalah senjata taktis jarak pendek. Jika negara lain meluncurkan jenis senjata, hanya akan dianggap uji rutin, tak seorang pun akan terlalu khawatir," kata dia. Tetapi karena peluncuran dilakukan Korea Utara, tambah Salmon, kekhawatiran meningkat.

Salmon melaporkan ketegangan di semenanjung Korea jauh berkurang dibandingkan bulan lalu. "Korea Utara telah secara signifikan menurunkan semangat berkelahi dan retorika mereka sejak akhir April," ujar dia. Salmon pun berpendapat Pemerintah Korea Selatan tak punya cukup alasan untuk merespons uji coba rudal jarak pendek Korea Utara. Apalagi, tambah dia, Korea Selatan juga benar-benar menginginkan membawa Korea Utara ke meja perundingan.

Ketegangan terakhir di semenanjung ini meletus setelah peluncuran roket jarak jauh Korea Utara pada Desember 2012 dan uji coba nuklir bawah tanah pada Februari 2013, yang keduanya secara luas dikutuk. Retorika berapi-api Pyongyang pun meningkat pada Maret 2013, menyusul keputusan Dewan Keamanan PBB memperketat sanksi terhadap rezim Korea Utara setelah uji coba nuklir berlangsung.

Latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan juga memicu kemarahan Korea Utara. Terlebih setelah Amerika Serikat dianggap unjuk kekuatan, dengan antara lain mempertontonkan pesawat pembom siluman B2 yang memiliki kemampuan nuklir. Sebaliknya Korea Utara menuntut pengakuan sebagai negara berkemampuan nuklir yang ditolak mentah-mentah oleh Amerika Serikat. Krisis sepanjang bulan lalu telah mengakibatkan penutupan Kompleks Industri Kaesong, simbol besar terakhir kerja sama antar-kedua Korea.

Sumber :
Editor :
Ferlyando


BAGIKAN KE: