June 03, 2013

Kekerasan Polisi Turki terhadap Demonstran di Kecam Uni Eropa

Bentrokan di Istanbul. 
ANKARA - Para demonstran antipemerintah dan polisi bentrok di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki. Uni Eropa pun mengecam kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian Turki terhadap para pengunjuk rasa.

Kepala kebijakan tertinggi Uni Eropa Catherine Ashton menyampaikan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang terjadi di sejumlah wilayah Turki itu. Ashton pun menyesalkan penggunaan kekerasan yang tidak perlu oleh kepolisian Turki.

Dalam statemen yang dirilis kantornya, Ashton menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dan menghentikan kekerasa. "Dialog harus dilakukan untuk menemukan solusi damai atas masalah ini," tegas Ashton dalam pernyataannya seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (3/6/2013).

Para demonstran yang marah bentrok dengan aparat kepolisian pada Minggu, 2 Juni malam waktu setempat di sejumlah kota di Turki. Akibat bentrokan ini, bangunan masjid, toko-toko dan universitas telah berubah menjadi rumah sakit darurat untuk para korban yang terluka.

Dalam bentrokan tersebut, para pengunjuk rasa menggunakan batu untuk membuat barikade dan polisi merespons dengan melepaskan gas air mata dan semburan air. Menurut pejabat setempat, lebih dari 1.700 orang telah ditangkap terkait aksi protes yang menyebar di 67 kota ini, meski banyak di antara mereka yang telah dibebaskan.

Para demonstran di Istanbul, Ankara dan kota-kota lainnya melakukan protes terhadap langkah Islamisasi yang dilakukan Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebagian demonstran khawatir Turki akan kembali menjadi negara Islam karena baru-baru ini pemerintahnya membatasi penjualan minuman beralkohol.

Para demonstran umumnya kaum muda-mudi dan berasal dari warga kelas menengah perkotaan. PM Erdogan menyebut para pengunjuk rasa tidak demokratis dan terinspirasi oleh partai-partai oposisi.

Sumber: AFP
Editor: Ferlyando

BAGIKAN KE:

PENULIS :