July 24, 2015

Diskusi TEPI : Harusnya ada Batasan bagi Legisalator Mengundurkan Diri


MANADO - Komite Pemilih Indonesia (TEPI) menggelar diskusi terbatas di Kafe Billy, Jl. Samratulangi, Manado, dengan topik : "Fenomena Legislator Mengundurkan Diri," Jumat (24/7/2015).

Peneliti TEPI, Dr Jerry Massie Ph.D yang tampil sebagai narasumber menjelaskan gejala legislator ramai-ramai mundur, kerap dijumpai dalam dunia Parpol lantaran tidak ada UU yang mengaturnya.

Seorang legislator kata Massie, harus tahu fungsi mereka yakni : controlling (pengawasan) legislasi dan budgeting. Namun sangat disayangkan fenomena yang terjadi yakni banyak legislator yang duduk namun no idea (tidak ada ide), no breakthrough (tidak ada terobosan), sleeping (kerjaannya hanya tidur), never talk (tak pernah berbicara) itulah yang terjadi, tandas dia.

"Dengan disahkannya UU No. 8 Tahun 2015 Pasal 7 huruf s dan r oleh MK, terkait seorang calon maju dalam pilkada, maka setiap calon dia harus mundur dari parpol dimana dia bernaung, begitu pun seorang PNS," kata Massie.

Massie menilai ini ada sedikit kejanggalan, pasalnya, tidak etis jika seorang legislator yang baru 1 atau 2 tahun menjadi anggota DPR/DPD maupun DPRD, langsung diusung untuk maju pilkada. Jadi harus ada limited, lantaran masih banyak yang belum dikerjakan oleh legilator ini barangkali  ini bisa disebut menciderai demokrasi dan kepercayaan rakyat, ucapnya.

"Masyarakat paling tidak akan menagih janji politik saat kampanye. Mereka berhutang pada masyarakat, mana mungkin 1 tahun maupun 2 tahun dia sudah berbuat atau punya kontribusi untuk rakyat," kata Massie.

Lanjut kata dia, terkadang hukum demokorasi dan moral diatas hukum interest (kepentingan) dan power (kekuasaan). Partai terkadang lalai menjalankan perannya dalam menentukan siapa saja yang layak diusung. "Mundur sih sah-sah saja, namun pertanyaannya disini, apa yang telah dibuat calon tersebut sebelum dia mengundurkan diri, jadi perlu silihat apa sebetulnya orientasi dia apakah money oriented (orientasi uang), party oriented (orientasi partai), authority oriented (orientasi kekuasaan), personal oriented (orientasi pribadi) atau people oriented (orientasi rakyat)," tegas Massie.

Di Amerika menurut riset pemimpin yang dicari adalah yang pertama, kejujuran, kompetensi dan melihat jauh kedepan (visi). Seorang pemimpin adalah do the right thing sedangkan manajer do the thing right, jelasnya.

Sedangkan narasumber lainnya, Melky Pangemanan Direktur Eksekutif Sulut Political Institute (SPI) dalam kesempatan ini banyak menyoroti seputar rekrutmen dan fit and proper test saat masuk parpol.




BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: