September 20, 2015

Warga Cina Masih Trauma Peristiwa 1998


CHINA - 17 tahun berlalu, peristiwa kelam 1998 di Indonesia rupanya masih menjadi trauma di sebagian rakyat China. Kedutaan Besar RI di China pun berupaya meluruskan pandangan tentang anti-China di Indonesia, yang masih ada dibenak warga China, khususnya kalangan muda.

Hal itu mengemuka dalam diskusi antara delegasi Majelis Permusyawaratan Rakyat RI dengan Duta Besar RI untuk China Soegeng Rahardjo di KBRI di Beijing, China.

"Karena memang peristiwa 1998 melukai, seolah-olah yang jadi korban adalah masyarakat Tionghoa," kata Soegeng menjawab isu sensitif apa yang ada di tengah rakyat China.

Delegasi MPR yang melakukan kunjungan kerja ke China adalah Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua Fraksi PDI-P di MPR Achmad Basarah, Ketua F-Golkar di MPR Rambe Kamarul Zaman, Ketua F-PKS di MPR TB Soenmandjaja, Ketua F-Hanura di MPR Sarifudding Sudding. Mereka didampingi Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Tiongkok Alim Markus.

Kunjungan MPR RI kali ini adalah kunjungan balasan terhadap kedatangan pimpinan MPR China ke MPR RI beberapa waktu lalu.

Soegeng mengatakan, pihaknya terus melakukan pendekatan lewat diskusi di kampus-kampus terkenal di China serta lembaga pendidikan lain. Kalangan muda China, kata dia, kemungkinan mendapat informasi mengenai tragedi 1998 lewat dokumentasi pemberitaan.

Menurut Soegeng, dalam setiap diskusi, pihaknya menjelaskan bahwa korban peristiwa 1998 di Indonesia bukan hanya warga keturunan Tionghoa, tetapi juga warga lainnya.

"Saya jelaskan itu bukan ditujukan masyarakat Tionghoa, tapi satu konflik politik yang tidak bisa dihindarkan," kata Soegeng.

Soegeng menambahkan, pihaknya juga menjelaskan bagaimana kondisi Indonesia saat ini. Kemudian, bagaimana pandangan Indonesia terhadap dunia, terutama China.

"Tapi menurut saya di mana pun ada kelompok-kelompok yang phobia (terhadap kelompok lain). Di sini juga ada, itu  biasa, yang harus kita berikan keterangan yang bermanfaat supaya mereka dapat mengubah cara pandang," kata Soegeng.

Dalam diskusi itu, Basarah menyinggung hal senada mengenai masih adanya phobia di tengah masyarakat Indonesia mengenai komunis, yang dikaitkan dengan peristiwa 1965.

Basarah menyinggung partainya sempat "diserang" isu komunis hanya karena punya hubungan dengan parpol komunis di China. Padahal, kata dia, parpol lain di Indonesia juga punya hubungan yang sama.

"Akhirnya berkembang jadi isu karena masih ada komunis phobia. Bagaimana perasaan elite di China mengenai itu?" kata Basarah.

Soegeng menjawab bahwa tidak ada masalah mengenai hal itu di jajaran pimpinan China. Saat ini, kata dia, pendekatan para pimpinan China bukan pada ideologi, tetapi bagaimana menciptakan kekuatan ekonomi.

Sumber : Kompas.com

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: