November 11, 2015

Sulut Koleksi 9 Pahlawan Nasional


MANADO— Warga Nyiur Melambai mesti bangga. Pasalnya, sejak tempo dulu peran warga Sulawesi Utara untuk membangun negeri ini sangat vital. Itu dibuktikan, dengan apresiasi yang diberi pemerintah bagi sejumlah warga Kawanua, yang berjasa bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan sebuah gelar Pahlawan Nasional. Di edisi hari pahlawan hari ini, Manado Post membeber sembilan pahlawan nasional berdarah Kawanua. Yang pertama, Dr Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal dengan Sam Ratulangi.

Lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890  dan meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949 pada umur 58 tahun, Sam Ratulangi adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulut. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi juga sering disebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ yang artinya ‘manusia hidup untuk menghidupkan orang lain’

Berikutnya, Arie Frederik Lasut, lahir di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, 6 Juli 1918 dan wafat di Pakem, Sleman, Yogyakarta, 7 Mei 1949 pada umur 30 tahun. Adalah seorang Pahlawan Nasional dan ahli pertambangan serta geologis. Lasut  terlibat dalam perang kemerdekaan Nasional Indonesia dan pengembangan sumber daya pertambangan dan geologis pada saat permulaan negara Indonesia.

Arie Lasut adalah putra tertua dari delapan anak, pasangan Darius Lasut dan Ingkan Supit. Lasut mendapat penghargaan Pahlawan Pembela Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia pada 20 Mei 1969. Ketiga, Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan, atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma, lahir di Manado, 9 Maret 1911 dan meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1988, pada umur 77 tahun.

Adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kesibukannya dalam perjuangan, membuat ia baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966, John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma.

Ia meninggal dunia karena stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 9 November 2009.

Selanjutnya, Maria Josephine Catherine Maramis, lahir di Kema, 1 Desember 1872 dan meninggal di Maumbi, 22 April 1924 pada umur 51 tahun, atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis. Maria adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20. Ibu Maria Walanda Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan.

Menurut Nicholas Graafland, dalam sebuah penerbitan "Nederlandsche Zendeling Genootschap" 1981, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki "bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk memperkembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki". Mengenang jasanya, telah dibangun Patung Walanda Maramis yang terletak di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang.

Ada juga, Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean, lahir 21 Februari 1939 dan meninggal 1 Oktober 1965 pada umur 26 tahun. Adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution dengan pangkat letnan satu, ia dipromosikan menjadi kapten anumerta setelah kematiannya. Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama enam perwira korban G30S lainnya. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada 5 Oktober 1965.

Kemudian, Robert Wolter (RW) Monginsidi, lahir di Malalayang, Manado 14 Februari 1925 hingga meninggal di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, 5 September 1949 pada umur 24 tahun. Adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Monginsidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973.

Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut. Bandara Wolter Monginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Monginsidi, seperti kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi.

 Lapian

Adapula dua bersaudara, Alex Impurung Mendur (1907 - 1984) adalah salah satu fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Bersamanya ada saudara kandungnya Frans Mendur, lahir tahun 1913– meninggal tahun 1971. Adalah salah satu dari para fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Bersama saudara kandungnya tersebut, mereka turut mengabadikan persitiwa bersejarah ini. Baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, penghargaan Bintang Jasa Utama. Putra Minahasa sang pahlawan foto itu kini telah tiada, namun generasi berikut, wajib meneruskan dengan semangat nasional dan karya-karya foto yang baik, karya foto yang mengutamakan fakta dan peristiwa bersejarah.

Penerima gelar pahlawan asal Bumi Nyiur Melambai yang terakhir adalah Bernard Wilhelm Lapian, lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892 dan meninggal di Jakarta, 5 April 1977 pada umur 84 tahun. Adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam pelbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan pemerintah, BW Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933, yaitu suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri, yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk. Pada masa revolusi kemerdekaan, BW Lapian sebagai pimpinan sipil saat itu berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Karena ketokohannya, pada masa kemerdekaan dipercayai untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950-1951, yang berkedudukan di Makassar. Pemberian tanda jasa untuk BW Lapian diberikan Presiden Joko Widodo kepada ahli waris Louisa Magdalena Gandhi Lapian. Gelar Pahlawan Nasional tersebut diberikan kepada BW Lapian karena ia merupakan sosok yang ikut merebut kekuasaan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama saat peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946.

Sumber : Manadopost.ol

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: