September 08, 2017

Jelaskan Keadaan Suku Rohingya, PMII Manado Gelar Aksi dan Theatrikal Di Zero Point

Theatrikal yang dilakukan aksi massa/ist


Manado - Kamis sore (07/09) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado gelar aksi solidaritas terhadap diskriminasi suku Rohingya di Negara Myanmar.

Aksi yang melibatkan KOPRI Cabang Manado, PMII Komisariat IAIN Manado, PMII Rayon Politeknik, IPNU - IPPNU Manado serta GP Anshor Manado melihat gerakan genosida yang menerpa Rohingya tak lepas dari kepentingan asing dalam mengeruk Sumberdaya Alam (SDA) Myanmar. (Arman)

Salahsaru orator menjelaskan tuntutan aksi massa kepada pengguna jalan/ist


Berikut tuntutan dalam aksi yang yang dilakukan oleh PMII Cabang Manado :

Forum Peduli Kemanusiaan

(KOPRI CABANG MANADO, PMII Komisariat IAIN Manado, PMII Rayon Politeknik Negeri Manado, IPNU – IPPNU Manado, GP – ANSOR Manado,)

ROHINGYA; Dari Pembantaian Kemanusiaan, Hingga Eksploitasi Ekonomi. 

Rohingya adalah masalah kesekian dari apa yang kita sebut sebagai krisis kemanusiaan. Orang-orang dibantai, anak-anak dibunuh, wanita-wanita diperkosa lalu dibunuh. Untuk menghindari dari pembunuhan, maka mereka harus pergi mengungsi. Mereka harus menyelamatkan nyawanya dan mengungsi di negara tetangga yang belum tentu juga menerima mereka.


Mereka adalah orang-orang Rohingya. Penduduk “pribumi” Myanmar yang menjadi korban pembantaian, pemerkosaan dan pengusiran. Negara tetangga mereka, Bangladesh, juga tidak menerima pengungsi-pengungsi Rohingya. 


Menurut berbagai sumber, tercatat setidaknya ada sekitar 60.000 penduduk rohingya yang memilih pergi dari tanahnya sendiri, serta sekitar 52 persen mengalami pemerkosaan (Kompas.com, 01/09/2017)


Di saat manusia-manusia yang lain masih bercengkrama dengan anak-anaknya, tidur di kasur yang empuk, makan-makanan yang sehat, serta pekerjaan yang terhormat, di saat yang sama, orang-orang rohingya, setiap hari, jam dan detik, dibayang-bayangi pembunuhan, eksploitasi dan pemerkosaan. 


Kebahagiaan mereka adalah ketika mereka berhasil mengungsi di negara tetangga, meskipun dengan melewatkan hari-hari yang suram, yakni melewatkan hari-hari tanpa tempat tinggal, dan tanpa makanan. 


Lebih dari itu, mereka bukan hanya menjadi korban pembunuhan, pengusiran, dan pemerkosaan, akan tetapi di sisi lain, mereka juga menjadi korban-korban eksploitasi ekonomi. 


Hal ini dapat dilihat dari banyak bermunculannya berita-berita Hoax mengatasnamakan Agama dalam menafsirkan pembunuhan, eksploitasi dan pemerkosaan di Rohingya. Hal ini tentu memberikan keuntungan secara ekonomi, baik bagi pembunuh dan pemerkosa entis rohingya, maupun para penebar berita-berita palsu. 


Militer Myanmar, yang membunuh dan memperkosa rakyat Rohingya, akan mendapatkan keuntungan dengan “langgengnya” operasi perusahaan-perusahaan minyak multinasional di Semenanjung Rakhine yakni Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris). 


Kedua, penebar berita-berita palsu juga akan mendapatkan keuntungan ekonomi dengan menebarkan berita-berita palsu berupa isu-isu Sara’ (Suku, Ras, Agama) dalam menafsirkan konflik Rohingya. 


Dengan demikian, etnis Rohingya, sebagai penduduk asli Myanmar, bukan hanya menjadi korban Pembunuhan, dan Pemerkosaan, akan tetapi menjadi korban eksploitasi ekonomi; tempat kelompok-kelompok tertentu mengambil keuntungan finansial. 


Atas dasar hal terebut, maka kami yang tergabung dalam Forum Peduli kemanusiaan ;


1. Mengutuk Tindakan Kekerasan Kemanusiaan Etnis Rohingya.


2. Atas nama kemanusiaan kami meminta pemerintah Myanmar menghentikan kekerasan di Myanmar


3. Stop kekerasan atas nama SARA (Suku, Ras, Agama)


4. Mendesak pemerintah Myanmar memberi perlindungan penuh pada rakyat Rakhine tanpa memandang etnis dan Agama


5. Meminta kepada negara-negara ASEAN secepatnya menyelesaikan konflik di Rohingya.


6. Mendorong Poin terakhir presiden untuk segera membentuk komite perdamaian di Myanmar .

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: