August 09, 2018

Harga Kopra Anjlok, Dewan Minsel "Kuliti" PT. Cargill




Minsel - Anjloknya harga Kopra beberapa tahun terakhir ini membuat petani dan pemilik kelapa menjerit, kondisi ini sangatlah berpengaruh terhadap perekonomian yang ada di daerah Minahasa Selatan (Minsel)

Alhasil, rakyat mempertanyakan keberadaan PT.Cargiel yang berkedudukan di Amurang perusahaan milik amerika yang bergerak di bidang industri minyak kelapa menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Minsel terkait masalah harga kopra.

Mendengar keluhan dari masyarakat petani kelapa pada umumnya warga Minsel, membuat Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) memanggil Hering perusahaan tersebut dalam rangka meminta penjelasan terkait dengan anjloknya harga kopra serta persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang di lakukan oleh PT.NTW sebagai subkontraktor pada PT.Cargiel.

Robby Sangkot S.pd sebagai ketua komisi III yang memimpin langsung rapat dengar pendapat yang di hadiri oleh wakil ketua DPRD Minsel Rommy Pondaag SH.MH, Frangky Lelengboto bersama anggota di antaranya Salman Katili, Joppy Mongkaren dan lain-lain.

Sangkoy mencerca dengan berapa pertanyaan terkait dengan permasalahan harga yang menurut dia tidaklah mendasar jika harga kopra saat ini sangat merugikan petani.

"Dengan alasan nilai mata uang dollar tehadap rupiah sangatlah tinggi sedangkan kopra adalah salah satu bahan baku export jika demikian harganya harus melonjak jauh dinilai dari harga dollar amerika seperti yang di perkirakan oleh beberapa pakar ekonomi," ujar sangkoy berapi-api.

Management PT.Kargiel memberikan jawaban, sebagai alasan yang mana anjloknya harga kopra saat ini di karenakan pengaruhnya ekonomi global dan berkurangnya mutu kelapa yang ada di wilayah Minahasa Selatan.
Mendengar jawaban itu para anggota dewan yang hadir menyatakan tidak dapat menerima alasan tersebut sehingga salah satu dari mereka langsung mengusulkan menggunakan hak angket dewan kebetulan belum pernah di gunakan, ujar salah satu anggota dewan.

Di ketahui dalam pertemuan tersebut juga membahas persoalan tujuh belas (17) tenaga buru bongkar muat yang di PHK oleh PT.NTW yang notabene adalah perusahaan subkontraktor pada PT. Cargill sebagai perusahaan penyedia jasa dan sampai rapat berakhir belum memiliki kesepakatan antara eks tenaga buru dan pihak PT.Cargiel sehingga di jadwalkan untuk di laksanakan pertemuan kembali dalam rangka membicarakan nasib dari tenaga buru tersebut yang nantinya akan di fasilitasi oleh Dinas Tenaga Kerja dan Serikat Buru Sejahtera Indonesia (SBSI) Sulawesi Utara yang akan menghadirkan Pihak PT.NTW dan PT.Cargiel pada Minggu depan. (Suharto Kembuan)

BAGIKAN KE:

0 komentar: