March 22, 2013

Harley Mangindaan Himbau Warga Waspada DBD

Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan
saat kunjungi RS Prof. Kandou  
MANADO, FOKUSMANADO.COM - Kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) di kota Manado harus mendapat perhatian serius.Demikian dikatakan Wakil Walikota Manado, DR (C) Harley AB Mangindaan SE, MSM, ketika melihat langsung penanganan para dokter Rumah Sakit (RS) Prof Kandouw terhadap pasien DBD yang kritis, Rabu (20/3) lalu.

Tak berdaya, tinggal dibantu alat pernafasan dan sesekali tangan dokter mencoba lakukan hentakan untuk jantung, balita yang diperkirakan berumur 1,5 tahun terlihat berjuang untuk kembali normal. Meski hanya bisa memantau dari seberang kaca pembatas ruang perawatan, namun kecemasan dalam ruang jelas terlihat.
Kondisi ini yang terjadi dalam ruang khusus bagi penderita DBD yang kritis, tak heran, Wawali yang ikut saksikan perjuangan balita pasien DBD tersebut ikut terharu.

“Barusan saya lakukan fogging di wilayah Kelurahan Bahu, dan saya ingin memantau pasien akibat DBD, tidak nyangka ada pasien balita yang tengah kritis. Saya hanya bisa berdoa supaya balita itu bisa cepat sembuh,”ujar Wawali.

Dari data, khusus di rumah sakit prof kandouw, sejak Januari hingga Maret 2013 ini, sudah ratusan pasien yang ditangani.

“Pada bulan Januari ada 42 kasus dan satu warga meninggal, sementara Februari 30 warga yang jadi pasien di rumah sakit tersebut dan meninggal 3 orang. Memasuki bulan Maret ini, telah terdaftar 30 warga yang dirawat. Artinya total yang meninggal sudah 4 orang. Saya akan koordinasi dengan dinas kesehatan apakah perlu dilakukan fogging serentak di semua wilayah yang terdapat kasus DBD. Meski bukan yang jadi pasien DBD bukan hanya warga Manado, tapi langkah cepat harus kita ambil, dengan harapan meredam penyebaran DBD,”tegas Wawali.

Wawali menambahkan, meski intensitas hujan di bulan Maret tidak setinggi Januari dan Februari lalu, tapi masyarakat harus tetap waspada terhadap potensi serangan penyakit (DBD).

“Faktor perubahan cuaca (musim pancaroba) dari hujan ke cuaca panas yang begitu cepat adalah salah satunya. Faktor klasik lainnya, antisipasi masyarakat atas perkembanganbiakan jentik nyamuk aedes aegepty masih rendah. Nah, dua faktor itu yang menjadi penyebab utama saat ini. Musim pancaroba memang berpotensi berkembangbiaknya jentik menjadi nyamuk, tapi masyarakat harus rutin melakukan taburisasi larvasida (abate),"ungkap Wawali.

Sementara itu, diruang lain RS Prof Kandouw, salah satu orang tua pasien Edy Paparang warga Karombasan Utara lingkungan 5 menyatakan, anaknya terkena DBD, awalnya demam dan kondisi stamina ikut menurun.

“Saya langsung membawa ker rumah sakit dan ternyata hasil pemeriksanaan dokter, anak saya  kena DBD. Namun sebelumnya di wilayah saya, lingkungan lima, ada kasus DBD. Akan kasus itu sudah dilaporkan ke pemerintah setempat dan kami harapkan agar ada penanganan dari pemerintah seperti fogging,"tandas Paparang.

Reporter: Nikson Katiandagho
Editor  : Ferlyando Sandala 

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: