May 27, 2013

Masih Banyak Praktik Prostitusi Terselubung di Surabaya

Ilustrasi prostitusi
Ilustrasi prostitusi. 
SURABAYA - Obsesi Pemerintah Kota Surabaya untuk membersihkan praktik prostitusi sepertinya tak akan berdampak signifikan bagi perilaku para lelaki hidung belang. Mereka seolah dijamin tak akan kehilangan tempat untuk memuaskan hasratnya karena saat sebagian kompleks lokalisasi mulai disterilkan, justru praktik prostitusi terselubung menjamur deras.

Praktik prostitusi terselubung di Surabaya beragam bentuknya. Dari penelusuran, paling banyak, prostitusi berkedok praktik jasa pijat kebugaran atau layanan spa. Dua tahun terakhir, praktik tersebut mulai menjamur hampir merata untuk level ekonomi menengah ke atas, hingga menengah ke bawah. Dari harga di atas Rp 1 juta, hingga harga di bawah Rp 500 ribu.

Tempat-tempat tersebut hanya populer di kalangan tertentu. Maklum, namanya tidak sepopuler kawasan lokalisasi Dolly, Jarak, atau Bangunsari. Kebanyakan, tempat operasi prostitusi ini menyatu dengan kompleks ruko, berjajar dengan kantor usaha lainnya seperti agen travel, atau kantor pengacara. Untuk level menengah ke atas, ada yang memilih tempat eksklusif di hotel atau lantai atas pusat perbelanjaan.

Jam operasi ''wisata sensual'' tersebut juga tidak seperti kebanyakan kompleks lokalisasi yang buka hingga tengah dini hari. Jam operasi sebagian prostitusi ini menyesuaikan jam kerja, dari pukul 10.00 WIB hingga maksimal pukul 21.00 WIB.

Seorang lelaki yang mengaku gemar menjelajah wisata sensual di Surabaya mengaku lebih suka ''jajan'' di panti pijat atau spa karena menurut dia tempatnya lebih aman, waktunya juga bersahabat. ''Tidak perlu keluar malam karena bisa ke sana saat jam istirahat kerja,'' kata pria 35 tahun yang berprofesi sebagai sales produk bangunan ini.

Seperti diberitakan, Pemkot Surabaya didukung Pemprov Jatim dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tiga tahun terakhir gencar berkampanye menghapus julukan Kota Surabaya yang tenar disebut ''Kota Sejuta PSK''. Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka dengan kemampuan usaha dan memberikan bekal Rp 3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya.

Pemkot Surabaya mengklaim, usahanya itu mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi 162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapai 213 PSK.

Sumber: Kompas
Editor: Ferlyando

BAGIKAN KE:

PENULIS :