August 22, 2015

Alat USG Portable untuk Desa Terpencil


JAKARTA -  Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2013, angka kematian ibu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih sangat jauh dari target Millennium Development Goals (MDGs), yaitu 102 per 100.000 angka kelahiran hidup.

Sejumlah kasus kematian ibu dan bayi itu banyak terjadi di daerah terpencil. Bagaimana tidak, masyarakat di daerah terpencil sering kali tidak mendapat akses pelayanan kesehatan. Tidak ada dokter, tidak ada peralatan kesehatan yang memadai, atau bahkan tidak ada klinik maupun rumah sakit.

Guna menekan angka kematian ibu itu, GE Healthcare bekerja sama dengan Universitas Indonesia  melakukan program telemedicine menggunakan alat ultrasonografi (USG) portable.

President & CEO GE Healthcare's Sustainable Healthcare Solutions Business Terri Bresenham mengungkapkan, kondisi kandungan ibu hamil yang tergambar pada USG portable dapat ditransfer ke sistem Electronic Medical Records (EMR). Kemudian, dokter kandungan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dapat memberikan diagnosa pada ibu hamil melalui gambar yang didapat.

"Alat ini sangat mudah dibawa untuk di tempatkan di daerah yang belum memiliki akses teknologi pelayanan kesehatan," ujar Terri dalam acara GE Healthcare Innovation Forum di Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Proses transfer data bisa menggunakan bluetooth dari USG Portable ke telepon genggam. USG portable memungkinkan para dokter maupun bidan mendatangi pasien langsung ke rumah-rumah karena sangat mudah dibawa ke mana pun dan beratnya hanya 2 kilogram. Alat ini juga bisa aktif dengan menggunakan baterai, mengingat di daerah terpencil sering kali belum terdapat listrik.

Sebagai langkah awal, program telemedicine akan diterapkan di Klinik satelit UI Depok, Klinik Dokter Keluarga Kayu Putih, Puskesmas Cengkareng, dan Puskesmas Duren Sawit.

Harapannya, USG portable bisa digunakan di daerah terpencil dan menekan angka kematian ibu dan bayi. Meski demikian, mengatasi kematian ibu dan bayi tentunya membutuhkan kerja sama semua pihak.

Akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil maupun kepulauan harus ditingkatkan dengan pembangunan infrastruktur, penyebaran dokter yang merata, dan tersedianya alat kesehatan

Sumber : Kompas.com

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: