September 03, 2015

Azyumardi Azra Minta Pemerintah Blokir Situs-situs Radikal


JAKARTA — Cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra, menyatakan pemerintah harus secara rutin memantau situs-situs negatif penyebar paham kekerasan yang bisa mengancam perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia bahkan menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah pemblokiran terhadap situs radikal yang terbukti mempromosikan kekerasan dan kebencian.

"Situs-situs yang mengajarkan paham kekerasan, menghasut, ataupun menyebarkan kebencian memang harus diblokir," kata Azyumardi di Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Menurut Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, pemblokiran situs negatif adalah hal yang wajar dan dilakukan pula oleh pemerintah negara lain.

Ia mencontohkan, Pemerintah Tiongkok sangat aktif memblokir situs-situs radikal, dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) memblokir situs yang bertentangan dengan undang-undang dasar atau hukum.

Namun, ia menyarankan agar pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertindak bijaksana sebelum memblokir situs-situs tersebut.

Mengenai parameter radikal, menurut Azyumardi, hal itu tergantung dari tingkat pemikirannya. Kalau pemikirannya tidak lazim dan tidak diharapkan untuk menjadi panutan masyarakat umum, maka paham itu radikal. Misalnya, penggiat paham tersebut ingin melakukan perubahan secara cepat dan menyeluruh dengan cara-cara tidak konvensional. "Kalau kemudian pikiran-pikiran radikal itu diwujudkan dalam bentuk aksi, seperti menaruh bom, ya itu berarti terorisme," kata dia.

Azyumardi mengakui ada penafsiran berbeda terhadap parameter radikal. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa radikal itu baik. Menurut dia, baik secara keagamaan maupun sosiologis, radikal tetaplah tidak baik.

Azyumardi menghargai upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk merangkul generasi muda guna menghindarkan mereka dari pengaruh paham kekerasan.

Namun, lanjut Azyumardi, dewasa ini, kelompok penyebar paham kekerasan tak lagi mengandalkan cara konvensional berupa dakwah dan ceramah. Mereka beralih ke internet yang memiliki jangkuan lebih luas sehingga pemantauan terhadap situs-situs negatif menjadi sangat penting.

Sumber : tribunnews


BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: