March 10, 2016

Replay: Kejayaan 108 Tahun Inter Milan

Anniversary Inter Milan. 
MEMASUKI usia yang ke-108 tahun, segudang prestasi gemilang telah diukir Inter Milan. Kerap dihuni pemain-pemain asing tidak membuat Inter kehilangan jati diri sebagai satu di antara klub terbaik di Italia dan Eropa.

Berdiri pada 9 Maret 1908, Internazionale Milano atau yang lebih dikenal dengan nama Inter Milan merupakan pecahan dari AC Milan. Kuatnya dominasi orang-orang Inggris dan Italia di Milan, membuat beberapa pemain dan manajemen yang berasal dari Italia dan Swiss memutuskan untuk angkat kaki dan membangun klub baru. Ketidaksepakatan di dalam klub soal pembelian pemain asing juga menjadi penyebab Milan terbelah dua.

Mengusung semangat perbedaan dengan merekrut pesepak bola dari Italia ataupun negara lain, Inter berambisi menjadi klub yang disegani. "Malam yang indah ini akan memberi kita warna untuk berada di puncak: hitam dan biru dengan latar belakang bintang emas itu akan disebut Internazionale (Internasional), karena kita adalah saudara dari dunia." Kata-kata itu diucapkan para pendiri Inter Milan saat meresmikan klub pada 9 Maret 1908.

Inter Milan pertama kali menjuarai Liga Italia pada musim 1909-1910. Dilatih Virgilio Fossati yang sekaligus menjabat sebagai kapten, skuat Biru-Hitam berhasil menutup kompetisi domestik dengan bercokol di puncak klasemen.
Legenda Inter Milan, Giuseppe Meazza. (Inter Club Sydney). 

Perubahan nama sempat terjadi ketika Benito Mussolini yang memiliki faham fasisme berkuasa di Italia. Nama Internazionale terpaksa diubah menjadi AS Ambrosiana pada 1929. Sempat kembali berganti nama menjadi AS Ambrosiana-Inter pada 1931, petinggi klub memutuskan untuk memakai nama awal Internazionale Milano atau Inter Milan dari 1942 hingga saat ini.

La Grande Inter
Klub berjuluk I Nerazzurri ini memasuki masa keemasan pada periode 1960 hingga 1968 ketika diasuh pelatih legendaris asal Argentina, Helenio Herrera. Menerapkan formasi 5-3-2 dengan mengandalkan taktik Catenaccio atau pertahanan grendel, Herrera berhasil mengantarkan Inter merajai kompetisi di Italia dan Eropa.
Skuat Inter Milan 1967. (Libero.it). 

Di bawah asuhan Herrera dan diperkuat pemain-pemain seperti Sandro Mazzola, Giacinto Facchetti, Luis Suarez, serta Armando Picchi, Inter sukses merengkuh tiga trofi juara Serie A, yakni musim 1962-1963, 1964-1965, dan 1965-1966, Piala Champions dua musim beruntun, 1963-1964 dan 1964-1965, serta trofi Piala Intercontinental juga dua kali berturut-turut pada 1964 dan 1965. Berkat sederet prestasi tersebut, tak heran jika Inter Milan di bawah asuhan Helenio Herrera disebut sebagai La Grande Inter.

Selepas masa keemasan, Inter Milan mengalami periode sulit pada era 1990-an hingga awal 2000. Setelah meraih gelar juara Serie A yang ke-13 pada musim 1988-1989, Inter kesulitan bersaing dengan Juventus dan AC Milan yang bergantian menguasai kompetisi domestik. Catatan terburuk terjadi pada musim 1993-1994, di mana Inter terdampar di posisi 13 klasemen akhir Serie A dengan 31 poin, atau hanya unggul satu poin dari Piacenza yang menghuni urutan 15 atau batas terakhir zona degradasi.

Meski kesulitan meraih trofi di Serie A ataupun Coppa Italia, Inter Milan mampu berjaya di level Eropa. I Nerazzurri sukses menyabet tiga titel juara Piala UEFA pada musim 1990-1991, 1993-1994, dan 1997-1998.

Calciopoli dan Treble Winner
Skandal Calciopoli yang menghantam sepak bola Italia pada 2006 membawa "berkah" bagi Inter Milan. Juventus dan AC Milan yang merupakan rival abadi Inter terbukti terlibat dalam kasus pengaturan skor dan mendapat hukuman dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).

Juve terdegradasi ke Serie B dan menyerahkan gelar Scudetto musim 2005-2006 kepada Inter Milan yang berada di peringkat ketiga. Sementara itu, AC Milan yang finis di posisi kedua mendapatkan pengurangan 30 poin dan delapan poin untuk musim berikutnya.

Sejak saat itu, Inter pun menjadi penguasa di Serie A dengan meraih gelar juara liga lima musim secara beruntun dari 2005 hingga 2010, plus trofi Coppa Italia dari 2004 sampai 2010. Berhasil merengkuh Scudetto lima musim berturut-turut, membuat Inter Milan menyamai prestasi Juventus yang juga menjuarai liga secara beruntun dari musim 1930 hingga 1935.
Skuat Inter Milan saat merayakan keberhasilan merebut Scudetto 

pada 27 Mei 2007. (AP Photo/Luca Bruno). 

Inter Milan kembali mencatatkan prestasi gemilang ketika diasuh Jose Mourinho dari 2008 hingga 2010. Puncaknya terjadi pada musim 2009-2010, ketika Inter sukses meraih tiga gelar juara, yakni Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions. Bagi skuat Biru-Hitam, itu adalah untuk pertama kalinya meraih tiga trofi dalam semusim, sekaligus menjadi klub Italia pertama yang mengukir treble winners.

Sayang, ketika meraih kemenangan 2-0 atas Bayern Munchen pada final Liga Champions yang dihelat di Santiago Bernabeu, 22 Mei 2010, tak ada satupun pemain Italia di skuat inti Inter Milan. Marco Materazzi yang merupakan bek timnas Italia baru masuk ke lapangan pada menit ke-90+2 menggantikan Diego Milito yang memborong dua gol kemenangan Il Biscione

"Inter adalah tim Italia, dengan hanya pemain Italia di bangku cadangan, tetapi kami adalah klub dengan budaya Italia dan kami bangga untuk mewakili sepak bola Italia," ujar Mourinho selepas pertandingan seperti dilansir situs resmi UEFA.
Pelatih Jose Mourinho saat mengangkat trofi Liga Champions bersama
skuat Inter Milan pada 2010. 

"Ini adalah kemenangan penting. Italia adalah juara dunia dan sekarang juga juara klub Eropa. Ini fantastis dan saya bangga untuk memberikan kontribusi kecil ini," lanjut manajer asal Portugal itu.

Prestasi tersebut juga semakin menguatkan jika Inter Milan layak menyandang status sebagai salah satu klub terbaik di Italia dan Eropa. Apalagi, mereka adalah satu-satunya klub Italia yang tidak pernah sekalipun tedegradasi ke Serie B. Tak heran jika suporter mereka membuat lagu berjudul C'e solo l'Inter yang bermakna 'hanya ada satu Inter'.

Massimio Moratti dan Erick Thohir
Moratti merupakan salah satu presiden Inter Milan yang paling sukses. Duduk di pucuk pimpinan Inter dari 1995 hingga 2004 dan 2006 sampai 2013, pengusaha asal Italia itu mampu membawa I Nerazzurri meraih empat gelar Serie A, satu trofi Piala UEFA, satu titel juara Liga Champions, tiga Coppa Italia, dan satu Piala Dunia Antarklub.
Erick Thohir (kiri) dan Massimo Moratti (kanan). 

Terhitung sejak 15 Oktober 2013, Moratti memutuskan untuk menjual saham mayoritas Inter Milan kepada pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir. Bersama Handy Soetedjo dan Rosan Roeslani, Thohir membeli 70 persen saham Inter, sedangkan Internazionale Holding S.r.l yang merupakan perusahaan milik Moratti hanya memiliki 29,5 saham klub.

"Saya benar-benar senang telah menemukan pemilik baru klub. Saya yakin mereka lebih dari siap untuk terus memberikan keberhasilan baru bagi warna kebanggan klub kami. Secara pribadi saya merasa terhormat. Saya telah menjadi presiden Inter selama bertahun-tahun," kata Moratti di situs resmi Inter Milan pada 15 November 2013.

Di bawah kepemimpinan Erick Thohir sebagai presiden klub, Inter Milan berambisi bangkit dari keterpurukan baik di Italia dan Eropa. Setelah mengukir treble winner hingga saat ini, Inter hanya mampu mengoleksi satu gelar, yakni trofi Coppa Italia musim 2010-2011.

Keseriusan itu diperlihatkan Thohir dengan menggelontorkan dana hingga 105,95 juta euro (Rp 1,5 triliun) untuk mendatangkan 26 pemain baru dalam dua musim terakhir. Meski begitu, dana besar yang dikeluarkan tersebut belum memberikan dampak positif bagi Inter Milan.

Pada musim lalu, I Nerazzurri menutup musim di peringkat delapan klasemen akhir Serie A dan gagal meraih tiket berlaga di Liga Champions. Sementara itu di Coppa Italia, Inter hanya mampu lolos hingga perempat final dan di Liga Europa kandas pada fase 16 besar.

Hasil yang hampir serupa terjadi pada musim ini. Inter masih terpaku di peringkat lima klasemen sementara Serie A dengan mendulang 51 poin, sedangkan di Coppa Italia, langkah mereka terhenti karena kalah 3-5 dari Juventus lewat drama adu penalti usai agregat sama kuat 3-3.

Kendati begitu, Inter Milan enggan menyerah begitu saja. Target paling nyata yang bisa diraih saat ini adalah mengamankan posisi tiga besar demi mengamankan satu tempat di Liga Champions musim depan.

"Kami harus fokus pada diri kami sendiri. Jika kami melakukan apa yang kami bisa, kami punya peluang besar finis di posisi tiga klasemen akhir Serie A," ucap pelatih Inter Milan saat ini, Roberto Mancini.

Lantas, mampukah Inter Milan yang telah mengoleksi 39 gelar juara dengan rincian 18 trofi Serie A, tujuh Coppa Italia, lima titel Supercoppa Italia, tiga Liga Champions, tiga trofi Piala UEFA, satu gelar Piala Dunia Antarklub, dan dua Piala Intercontinental  mampu mengembalikan kejayaannya yang perlahan memudar dalam beberapa tahun terakhir? Layak untuk dinantikan.

Buon Compleanno, Inter Milan!... (bola)

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: