April 22, 2016

KDP : Kejadian Ini Akan Dibawa Ke Ranah Pimpinan DPRD Sulut

 KDP : Kejadian Ini Akan Dibawa Ke Ranah Pimpinan DPRD Sulut
MENINGGALNYA salah satu pasien Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Profesor Kandouw, Noldy Graselo Berkipas, warga Desa Rap-rap, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), mendapat kecaman oleh sejumlah pihak.

Wakil ketua komisi I DPRD Sulut, Kristovorus Decky Palinggi, (KDP). KDP mengecam sikap dari oknum dokter maupun perawat yang melakukan pembiaran atau tidak melayani pasien hanya karena status pasien BPJS Kesehatan.

“Saya sangat kecewa dengan pelayanan di RSUD Kandouw. Jangan hanya karena pasien BPJS Kesehatan kelas III kemudian tidak mendapat perhatian serius. Ini pandang bulu namanya. Mereka adalah keluarga miskin, tapi mereka juga manusia,” ucapnya.

Dikatakan KDP, kejadian ini akan dibawa ke ranah Pimpinan DPRD Sulut.

“Pengabaian terhadap pasien BPJS Kesehatan bukan hanya kali ini terjadi. Tetapi sudah berulang kali. Pelayananlah yang belum maksimal, padahal Negara telah membayar dana untuk rumah sakit dari BPJS. Saya akan membawa kejadian ini ke pimpinan dewan dan Komisi IV yang berhubungan langsung dengan pihak Rumah Sakit,” ujarnya.

Seperti yang diketahui bersama, peristiwa tersebut ditengarai oleh meninggalnya bocah malang berusia 4 bulan ini, Selasa (19/04) sekitar pukul 22.00 WITA akibat mengalami sesak nafas atau gangguan paru-paru. Namun karena pasien yang merupakan pasien BPJS Kesehatan mendapat perlakuan tidak adil dari pihak rumah sakit. Orang tua korban menilai, penanganan tim medis di RSUP Prof Kandouw, terkesan tebang pilih.

Dwi Irma Parwati, ibu korban, saat dimintai keterangan oleh sejumlah wartawan menjelaskan, dimana memang sangat nampak jelas kelalaian tim medis saat menangani bayi mereka.
Korban pada saat itu hanya diberikan obat puyer biasa untuk penanganan pertama, sedangkan kondisi korban terlihat sangat sekarat. Setelah diberi obat puyer, pasien tersebut disuruh pulang tanpa diberi resep dokter.

Hanya berselang beberapa jam di rumah, korban kembali dirujuk ke Rumah Sakit, karena kondisi korban sudah semakin memburuk. Saat tiba di ruang UGD yang sama, bayi yang menderita kelainan jantung sejak lahir ini, kembali hanya diberi obat puyer oleh dokter. Hanya bertahan beberapa jam, akhirnya bayi malang tersebut menghembuskan nafas terakhir.

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: