October 18, 2017

Kronologis Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Artha Graha (AG)

Foto Bank Artha Graha (Foto:Ist)

SEBAGAI salah satu Bank Swasta terkemuka di Indonesia, Bank Artha
Graha Internasional (BAGI) turut menunjang program pemerintah
Indonesia, dalam hal program Presiden Joko Widodo, untuk penguatan
dan menumbuh kembangkan perekonomian serta peningkatan
ketahanan pangan dikalangan masyarakat kecil dan menengah. Hal ini
ditunjukkan dengan keikut-sertaan BAGI pada pelaksanaan program
penyaluran KreditUsaha Rakyat (KUR) untuk masyarakat yang memiliki
usahakecil (Mikro) dan kepada masyarakat petani kecil (Pertanian).

Pada pelaksanaan program KUR ini, untuk daerah Provinsi Sulut pada
Tahun 2017 ini, Bank Artha Graha menyediakan anggaran/dana pribadi,
atau dana swasta milik Bank Artha Graha sendiri, sebesar Rp500 Miliar.

Dengan pembagian jenis KUR masing-masing KUR Mikro dengan batas
besaran/platform anggaran paling tinggi Rp25 Juta rupiah untuk satu
debitur, KUR Pertanian batas besaran/platform anggaran paling tinggi
Rp 25 Juta rupiah untuk satu debitur. Dan juga KUR Retail, atau KUR
untuk masyarakat pengusaha menengah dengan batas besaran/ platform anggaran paling tinggi Rp 500 juta rupiah.

Keterlibatan Pemerintah pada pelaksanaan KUR Bank Artha Graha ini adalah, hanya sebagai penanggung Suku Bunga Kredit, atau yang lebih
dikenal dengan istilah Subsi di Bunga Kredit. Dimana, jika sebelumnya bunga kreditdi Bank Artha Graha sebesar 13 persen pertahun, dengan
adanya Subsidi dari pemerintah 4 persen pertahun, maka suku bungakredit untuk semua jenis KUR Bank Artha Graha menjadi 9 persen per tahun, dengan pembagian suku bunga kredit sebesar 0,85 persen per bulan, selama jangka waktu kredit 36 bulan atau 3 tahun.

Sesuai dengan kesepakatan antara pihak Bank Artha Graha dengan pihak Pemerintah, maka dalam pelaksanaan program KUR ini, pihak
pemerintah tidak mengatur kebijakan atau strategi pihak Bank Artha Graha untuk menjalankan program KUR tersebut. Hal ini untuk
mencegah tingginya angka Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah, atau kredit macet dari pihak debitur/nasabah KUR. Dengan demikian, maka pada pelaksanaan program KUR, Bank Artha Graha menggunakan strategi dengan menggan dengan tau melakukan
kerjasama dengan pihak ketiga atau pihak perusahaan sebagai penjamin
debitur/nasabah KUR. Pihak ketiga/perusahaan tersebut disebut Mitra
SP3 (Sosialisasi, Penyaluran, Pengawasan dan Pembinaan) atau dikenal
dengan istilah “BapakAngkat” KUR Bank Artha Graha.

Pada perjanjian kerjasama antara Bank Artha Graha dengan Perusahaan
Mitra SP3 KUR, disepakati bahwa selaku pihak penjamin debitur/nasabah KUR, pihak perusahaan harus memberikan/menyerahkan jaminan kepada pihak Bank Artha Graha
dengan nilai minimal sebesar Rp 5 Miliar. Jaminan ini dalam bentu kaset
bergerak dana settidak bergerak milik pihak perusahaan Mitra SP3 KUR.

Dan secara otomatis, setiap debitur/nasabah yang dijamin oleh pihak
perusahaan Mitra SP3 KUR Bank Artha Graha merupakan masyarakat
binaan dari pihak perusahaan.

MEKANISME PELAKSANAAN KUR MIKRO

Mekanisme pelaksanaan KUR Bank Artha Graha dilakukan sepenuhnya
oleh pihak perusahaan Mitra SP3, atau perusahaan “BapakAngkat”.

Yakni melalui mekanisme Sosialisasi kepada masyarakat tentang format
penyaluran dana KUR, melakukan penyaluran dana KUR secara bertahap
dengan menggunakan analisa kemampuan hasil usaha debitur/nasabah
KUR, melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana KUR oleh
debitur/nasabah, dan melakukan pembinaan terhadap debitur/nasabah
 KUR.

Dengan adanya jaminan dari perusahaan Mitra SP3 kepada pihak Bank
Artha Graha, maka masyarakat yang menjadi debitur/nasabah KUR Bank
Artha Graha melalui perusahaan Mitra SP3, tidak lagi dibebankan
jaminan dalam mendapatkan dana KUR. Cukup hanya memberikan data
Kartu Tanda Penduduk(KTP), Kartu Keluarga dan Surat Keterangan
Usaha (SKU) dari pemerintah setempat, dalam hal in ibertanda-tangan
Kepala Desa atau Lurah.

Selain itu, pihak masyarakat debitur/nasabah KUR juga melakukan
Perjanjian Kredit (PK) dengan pihak perusahaan Mitra SP3, dengan
menandatangani semua persyaratan KUR yang tertuang dan tertulis di
atas kertas yang ditanda-tangani oleh kedua pihak diatas meterai 6000.

Perjanjian Kredit ini, dilakukan dengan tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Baik itu dari pihak perusahaan Mitra SP3 kepada masyarakat,
maupun sebaliknya.

Pada Perjanjian Kredit antara debitur/nasabah KUR dengan pihak
perusahaan Mitra SP3, terdapat surat kuasa penarikan dana KUR yang
diberikan oleh debitur/nasabah KUR kepada pihak perusahaan Mitra SP3
selaku penjamin, untuk kembali disalurkan kepada debitur/nasabah KUR
secara bertahap dengan melakukan analisa kemampuan hasil usaha debitur/nasabah yang merupakan analiasa kemampuan mengangsur
kreditKUR.

Berdasarkan surat kuasa tersebut, maka pihak perusahaan Mitra SP3 bertanggungjawab sepenuhnya kepada pihak Bank Artha Graha terkait
 dana KUR yang dicairkan kepada debitur/nasabah KUR. Dengan skema
pencairan resmi sebagai berikut;
Dana KUR dicairkan pihak Bank Artha Graha ke rekening debitur/nasabah, yang telah melalui proses Perjanjian Kredit dengan pihak Mitra SP3 sebesar Rp25 juta rupiah. Dengan berdasarkan
Perjanjian Kredit, dan surat kuasa penarikan dana KUR yang ditanda-tangani oleh debitur/nasabah, maka penyaluran diambil alih sepenuhnya
oleh Mitra SP3 sebagai pihak penjamin debitur/nasabah KUR.

Dana KUR yang dicairkan oleh pihak Bank Artha Graha sebesar Rp25 juta rupiah dengan total angsuran sebesar Rp800 ribu perbulan selama 36 bulan. Maka dengan menggunakan analisa kemampuan hasil usaha
dan kemampuan mengangsur debitur/nasabah, maka pihak Mitra SP3
mencairkan kepada debitur/nasabah KUR sebesar Rp5juta rupiah sebagai pencairan tahap pertama, dengan sisa dana KUR debitur/nasabah KUR yang dipegang oleh Mitra SP3 sebesar Rp20juta
rupiah.

Dana pencairan tahap pertama sebesar Rp5juta rupiah ini, debitur/nasabah KUR dibebankan angsuran sebesar Rp160 ribu rupiah per bulan selama 36 bulan atau selama 3 tahun. Sedangkan untuk angsuran sisa dana KUR sebasar Rp20juta rupiah, sebesar Rp640 ribu
 rupiah, ditanggung oleh pihak Mitra SP3 selama kredit berjalan.

Pada pencairan tahap pertama Rp5 juta rupiah kepada debitur/nasabah
KUR, pihak Mitra SP3 akan melakukan potongan angsuran 6 bulan
pertama, sebesar Rp960 ribu rupiah (Rp160ribux6=Rp960ribu).

Maka Dana yang diterima bersih olehdebitur/nasabah Rp 4juta 40ribu
rupiah. Dan debitur/nasabah akan mulai mengangsur pada bulan ke7 hinggake 36.

Apabila dalam perjalanan kredit KUR ini, debitur/nasabah melanggar
komitmen dan perjanjian kredit yang telah disepakati, atau tidak mengangsur, atau kredit macet, maka dana sisa KUR yang ada di Mitra SP3 tidak lagi akan dicairkan kedebitur/nasabah KUR, dan dikembalikan
lagi kepihak Bank Artha Graha dengan sistem pelunasan termasuk
bunga kredit oleh pihak Mitra SP3 kepada pihak Bank Artha Graha.

MEKANISME PELAKSANAAN KUR PERTANIAN

Mekanisme penyaluran KUR Pertanian Bank Artha Graha juga dilakukan
sepenuhnya oleh pihak Mitra SP3. Untuk penyaluran KUR Pertanian, debitur/nasabah yang berhak mendapatkan Dana KUR ini adalah benar-benar petani kecil dan memiliki lahan pengolahan pertanian. Pencairan
dana KUR juga disalurkan melaui koperasi pertani atau kelompok tani yang ada diwilayah setempat, dana tau petani binaan pihak Mitra SP3 KUR Bank Artha Graha.

Platform anggaran yang dikucurkan pada KUR Pertanian ini sama dengan KUR Micro yakni sebesar Rp25juta rupiah untuk satu orang debitur/nasabah KUR. Dengan persyaratan serta format dan mekanisme
pencairan/penyaluran sebagai berikut;
Petani yang bisa mendapatkan atau ikut serta pada program KUR Pertanian Bank Artha Graha ini adalah petani dengan lahan pengolahan seluas minimal 1,5h ektar perorang. Dan untuk kelompok tani,
disesuaikan atau diakumilasikan dengan jumlah anggota dengan jumlah
luas lahan pengolahan kelompok tani tersebut. Misalnya, anggota
kelompok tani berjumlah 10 orang petani, berarti luas lahan pengolahan
juga harus sebanyak 15hektar.

Sistem pencairannya, setiapdebitur/nasabah KUR Pertanian dicairkan ke rekening sebesar Rp25 juta rupiah dengan jumlah angsuran Rp800
ribu rupiah per bulan selama 36 bulan, atau selama 3 tahun. Dengan
format pencairan,6 kali angsuran pertama dipotong dimuka sebesarRp 4,8 juta rupiah, dana penyertaan modal sebesar Rp5juta rupiah dibekukan direkeningdebitur/nasabah dengan catatanakan dicairkan
kedebitur/nasabah apabila kredit ini sudah dilunasi oleh debitur/nasabah selama 36 kali angsuran. Maka, dana sisa yang
disalurkan kedebitur/nasabah petani adalah Rp15,2 juta dari platform
dana KUR Pertanian sebesar Rp25 juta rupiah.

Dengan mekanisme dan pengaturan serta kerjasama yang disepakati
antar kelompok tani dan pihak Mitra SP3, maka diatur dari dana Rp15,2
juta rupiah tersebut, diatur untuk memenuhi kebutuhan serta pembiayaan pertanian antara MitraSP3 dan Kelompok Tani bersama
petani yang adalah debitur/nasabah KUR.

Perincian pelaksanaan anggaran KUR pertanian yang dicairkan kepetani
sebesarRp15,2 juta rupiah sebagai berikut; biaya produksi 1 hektar
lahan untuk tanaman jagung, sebesar Rp8jutarupiah. Mulai dari
pembelian bibit, pembelian pupuk hingga pembiayaan panen. Sementara
dana sisa sebesar Rp7,2 juta akan dipotong juga biaya administrasi dan sisanya untuk pembiayaan tenaga atau gaji petani.

Untuk 1 hektar lahan dengan modal pembiayaan sebesar Rp8juta, maka
hasil pertanian khusus jagung, akan menghasilkan pertanian antara 7 sampai  9 ton hasil pertanian jagung. Dari total produksi KUR pertanian
ini juga, nantinya akan dibagi hasil dengan para petani debitur/nasabah
KUR sebesar 40 persen dari total panen yang dikembalikan untuk petani.

Sementara 70 persen dari hasil panen diolah oleh koperasi petani atau
Mitra SP3 selaku penjamin dan pembina debitur/nasabah petani.

Demikian kronologis pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR)di Bank
Artha Graha untuk menjadi acuan dan konfirmasi tertulis dari pihak
Perusahaan Mitra SP3 KUR Bank Artha Graha dalam hal ini PT Budimas
Pundi Nusa dan PT Roka Berkat Abadi. TerimaKasih.


HormatKami,
RONALDMBROMPAS
ConsultanMedia/MediaCenter
MitraSP3BankArthaGrahaManado

BAGIKAN KE:

PENULIS :

0 komentar: